Di Supervisi Akademik?
Saat kepala sekolah masuk ke kelas untuk melihat pembelajaran kita pastinya tidak sedikit perasaan yang dag-dig-dug atau tidak leluasa (lepas) dalam mengajarnya. Karena yang terlintas dibenak kita adalah "prosedur" mengajar yang 'kudu banget' harus tepat dengan form penilaian. Dari sana guru (khususnya saya) biasanya mengajar macam seperti robot, kaku dan tidak lepas. Padahal tujuan dari supervisi itu sendiri adalah memperbaiki cara ajar kita kepada siswa. Bukan untuk menggurui atau mencari kesalahan, namun lebih tepatnya memberikan penguatan atas apa yang kurang serta mempertahankan yang sudah dianggap bagus.
Biasanya setelah kegiatan supervisi yang dilakukan oleh kepala atau litbang sekolah, kita dipanggil untuk membicarakan hasil dari supervisinya di dalam kelas. Mereka menyebutkan apa saja yang tergambarkan secara keseluruhan mengenai model pembelajaran yang digunakan sampai dengan manajemen kelas apakah sudah berhasil dilakukan. Memberikan beberapa pertanyaan yang khususnya untuk mengembangkan keterampilan kita dalam menemukan ide baru dalam mengajar dan memperkuat manajemen kelasnya.
Supervisi dapat dikatakan ideal bila orang yang disupervisi mampu mengembangkan lebih baik pencapaiannya saat ini. Baik itu dari segi kekuatan yang perlu untuk ditingkatkan sampai dengan kekurangan yang perlu dicarikan solusinya. Dengan catatan, biarkan orang yang disupervisi yang mencoba dulu mencari solusi dari kekurangannya itu. Bisa saja mereka (orang yang disupervisi) menemukan solusinya dengan cara mencari referensi di dunia maya serta mengikuti kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi pendidikan. Dengan kata lain, upskilling yang dilakukan bersumber dari kebutuhan diri sendiri.
Bila ditanya, apakah sudah ideal dalam memberikan supervisi? Jawabannya adalah belum ideal. Mungkin bila di rate baru pada posisi 6. Why? Karena saya sangat sadar, melihat sebuah pembelajaran yang dilakukan oleh guru lain/ teman sejawat belum secara menyeluruh. Masih terpaut dalam satu dua poin saja. Belum mampu untuk melihat dari berbagai macam aspek dan sudut pandang. Terlebih dari sudut pandang siswa yang saat itu dijadikan objek pembelajaran.
Aspek apa saja memangnya? Bukan hanya sekedar kelengkapan administrasi guru yang menjadi indikasi bahwa guru itu sudah cakap dalam mengajar, namun mampu memanajemen kelas dengan baik serta dapat memfasilitasi kebutuhan siswa dalam belajar dengan baik itu yang dikatakan sebagai guru teladan. Iya guru teladan dan predikat guru teladan disematkan untuk kita semua yang setiap saat terus belajar baik dari kegagalan ataupun dari keberhasilan.
Achmad Ardiansyah
Guru SDS Smart School/ CGP Angkatan 5 DKI Jakarta
Komentar
Posting Komentar