Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah

Siapa Kepala Sekolahnya di Sana?



Pertanyaan tersebut sering dilontarkan di khalayak umum untuk menandai atau simbolis sebuah sekolahan yang dituju. Begitu kuat sosok seorang pemimpin di sekolah sehingga sekolah tersebut kadang terwakilkan oleh seorang yang berstatus sebagai kepala sekolah.

Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya "Pemikiran dan Perjuangan" menyebutkan bahwa tiga dasar kepemimpinan yaitu "Ing Ngarso Sung Tolodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani" begitu jelas penempatannya. Bila seorang pemimpin berada di depan maka perlu untuk menjadi teladan bagi anggotanya. Menjadi pemimpin yang diteladani perlu mengasah karakter dasar seorang pemimpinan. Karakter dasar seorang pemimpin dalam buku "Best Practice Character Building" karangan Erie Sudewo menyebutkan tiga karakter dasar seorang pemimpin adalah jujur, tidak egois, dan disiplin. Karakter ini bila siapapun orangnya memiliki tiga karakter dasar maka selamatlah dia dalam menjalani kehidupan ini.

Pengambilan keputusan seseorang dalam pemecahan masalah perlu mempertimbangkan dilema etika kepemimpinan. Dilema etika merupakan sebuah pengejawantahan dari peran seorang pemimpin dalam menjalankan perannya menghadapi situasi mengambil keputusan dimana ada nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar namun saling bertentang. Disinilah logika dan hati seorang pemimpin "bermain" dalam sebuah treatikal antara individu melawan kelompok, rasa keadilan lawan rasa kasihan, kebenaran lawan kesetiaan, dan jangka pendek lawan jangka panjang. 

Keberadaan hati dan otak dalam pengambilan keputusan dari treatikal paradigma dilema etika perlu selaras dan seimbang. Mengingat pemimpin adalah seorang yang tegas namun mampu bersikap luwes dalam hal tertentu yang berhubungan dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Luwes yang dimaksud bukan untuk menguntungkan diri pribadi ataupun golongan, namun lebih kepada dampak yang akan ditimbulkan bila salah dalam mengambil keputusan dari sebuah permasalahan yang terjadi. Terkadang ada hal-hal yang dimaklumi dengan berbagai catatan. Contohnya kehilangan kesempatan belajar siswa karena dia mencontek.

Aspek sosial emosional yang ada pada diri seorang pemimpin pun menjadi perhatian khusus. Pemimpin yang tegas dan tempramental terkadang mempunyai sisi negatif yang berlebih dibandingkan sisi positifnya. Sisi negatifnya bisa saja para anggota jenuh dan muak dengan gaya kepemimpinannya. Mereka seakan dikekang untuk mengikuti setiap keputusannya tanpa ada konfirmasi terlebih dahulu, bahkan terkadang keputusan yang diambil tanpa adanya rasa kasihan, kesetiaan, ataupun jangka panjang.

Kembali ke ranah sekolah, bahwa peran kepala sekolah ataupun guru dalam mengambil keputusan perlu melihat apakah keputusan tersebut berpihak kepada siswa? Bila iya maka teruskan dan yakinkan bahwa hal itu adalah yang terbaik. Namun bila keputusan tersebut belum berpihak kepada siswa, ada baiknya kembali berefleksi dan meminta saran dari rekan sejawat dari keputusan-keputusan itu. Dengan adanya patokan tersebut menjadi rambu-rambu untuk pemimpin sekolah memutuskan sebuah program yang berkeadilan dan berpihak kepada murid.

Dalam program guru penggerak, kita diajarkan untuk memimpin pembelajaran dalam pengembangan sekolah. Menggunakan sembilan langkah dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan tersebut dalam situasi dilema etika ataupun bujukan moral. Kesembilan langkah tersebut adalah

  1. Mengenali nilai-nilai yang bertentangan.
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.
  4. Penguji benar atau salah: a) Uji Ilegal; b) Uji Regulasi; c) Uji Intuisi; d) Uji Publikasi; e) Uji Panutan/ Idola
  5. Pengujian paradigma benar lawan benar: a) Individu lawan kelompok; b) Rasa keadilan lawan rasa kasihan; c) Kebenaran lawan kesetiaan; d) Jangka pendek lawan jangka panjang
  6. Melakukan prinsip resolusi: a) berpikir berbasis akhir; b) berpikir berbasis peraturan; c) berpikir berbasis rasa peduli.
  7. Investigasi opsi trilema
  8. Buat keputusan
  9. Lihat lagi keputusan dan refleksi
Dengan adanya kesembilan langkah mengambil keputusan, diharapkan siapapun yang menjadi pemimpin sekolah mampu menghasilkan keputusan yang berpihak kepada murid serta mampu meminimalisir konflik atau gesekkan yang terjadi dengan adanya keputusan tersebut.

Komentar

  1. Memang tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin. Disamping dia bisa memimpin diri sendiri dia pun bisa memimpin orang lain. Apalagi dalam mengambil keputusan harus bijak. Salam guru penggerak. Indonesia hebat.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Sungguh luar biasa, menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah maka jiwa pembelajar harus pula dikedepankan agar menjadi sosok pemimpin dengan karakter yang baik, disamping itu menjadi pendengar yang baik juga mutlak dilakukan seorang pemimpin, karena Tuhan telah memberi dua telinga dan satu mulut agar dapat mendengar dua kali lebih baik sebelum mengucapkan satu kali yang buruk, dalam pengambilan keputusan haruslah bijaksana, maka penggunaan sembilan langkah dalam pengambilan keputusan haruslah pula di fahami orang seorang kepala sekolah agar mampu menghasilkan keputusan yang berpihak kepada murid serta mampu meminimalisir konflik atau gesekkan yang terjadi dengan adanya keputusan tersebut disekolah.

    BalasHapus
  4. Mantap dan luar biasa CGP hebat semoga sukses

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemimpin di Sekolah Sudah Pernah Kamu Wawancarai?

Di Supervisi Akademik?