Jangan Mau Kalah dengan Jepang dalam Membatik! (Sensing Journey in Museum Tekstil)

Cuaca cerah pagi itu seakan mendukung kami untuk memulai perjalanan mengunjungi salah satu tempat wisata edukasi di Jakarta, Museum Tekstil namanya. Perjalanan yang berdesak dengan para pekerja di ibukota turut mewarnai pagi kami di KRL Commuter Line jurusan Tanah Abang. Saya mengerti mengapa ibukota negara Indonesia ini penuh dengan para pekerja. Jakarta dengan segudang impian pekerjaan yang ada di sana, membuat siapapun tergiur akan imbalan berupa uang yang mungkin sebagian orang berpendapat lebih besar dibanding dengan kota lainnya.

Tak terasa kami sampai di tempat tujuan. Bermodalkan pengetahuan sebelumnya yang kami cari di internet dan petunjuk melalui google map membuahkan hasil.

Suasana asri dan teduh menghiasi Museum Tekstil ini. Konon menurut sejarah, museum ini mulanya adalah rumah pribadi milik warga negara Prancis pada abad ke-19. Setelah beberapa kali mengalami perpindahan kepemilikan, barulah pada 1976 gedung tersebut diresmikan sebagai Museum Tekstil oleh Ibu Tien Soeharto.

Gambar 1. Bersama di Museum Tekstil


Disambut baik oleh tour guide yang menjelaskan berbagai macam kain khas dari berbagai daerah di Indonesia. Pertama kami disuguhkan dengan batik khas dari daerah pedalaman dan pesisir. Warna yang didominasi oleh coklat dan hitam dengan ragam hias yang kontemplatif, tertib, dan simetris merupakan ciri khas dari batik pedalaman. Kebanyakan untuk batik pedalaman menggunakan motif geometris dan pengaruh budaya Jawa-Hindu, seperti ornamen yang terkenal di candi yang ada di daerah Yogyakarta dan Surakarta.

Sedangkan dalam batik pesisir, motif yang ditampilkan umumnya lebih eksplisit, bebas, spontan, dan kasar cenderung imajinatif dan abstrak. Biasanya terinspirasi dari apa yang dilihat seperti bunga, kupu-kupu, dan lain sebagainya sesuai dengan budaya daerah masing-masing.

Tour museum ini sangat saya nikmati dengan sedikit gumaman di dalam hati, bahwa kita kaya! Kita kaya akan budaya yang semestinya menjadi hal yang dapat dibanggakan oleh kita sebagai generasi penerus bangsa. Hanya dari satu sisi yaitu ‘sandang’, kita sangat beragam, kaya, dan bernilai estetis yang sangat tinggi.

Pendopo Batik

Tak puas dengan pengalaman melihat berbagai macam jenis kain di galeri Museum Tekstil, kami beranjak untuk mengunjungi ruangan berikutnya yaitu Pendopo Batik. Ruangan/area tersebut merupakan tempat dimana pengunjung bisa merasakan pengalaman yang bermakna yaitu membatik menggunakan canting dan malam.

Pertama, kami harus registrasi sebesar Rp40.000,00 per orang untuk bisa merasakan pengalaman membatik. Dimodalkan selembar kain putih berukuran tidak lebih dari 40 cm dan sebuah canting, kami diajak untuk membuat pola batik terlebih dahulu menggunakan pensil dan memilih templete pola yang sudah disiapkan oleh pihak museum. Saya memilih pola batik pedalaman dengan ciri khas yang simetris dan tertib dengan tujuan agar ketika saya membatik menggunakan canting dan malam dapat merasakan pada nilai-nilai spiritual yang harmonis antara alam yang tertib, serasi, dan seimbang.

Gambar 2. Proses Membatik Menggunakan Canting dan Malam


Rasa takjub bercampur ketidakpercayaan menyelimuti saya saat itu dikala membatik. Inilah membatik dengan bentuk kesabaran dan keuletan serta kehati-hatian dalam mengikuti sebuah pola yang sudah dibuat sebelumnya. Mengingatkan bahwa kita sebagai insan sudah memiliki pola yang ditetapkan oleh-Nya untuk menjadi hamba yang baik dan penurut. Dibekali dengan kitab suci yang saya imani keotentikannya, terkadang masih saja terlewat dari pola atau garis yang sudah ditentukan. Itulah manusia, yang lagi-lagi harus diingatkan dan harus sadar penuh agar ketika menggariskan pola yang sudah ditetapkan mampu meilhat dengan menyeluruh.

Tidak heran bila pembatik yang ada di keraton bukanlah orang sembarangan. Mereka membatik dengan melibatkan ritual-ritual tertentu. Memproses batik keraton diibaratkan sebagai ibadah, suatu aktivitas seni tinggi yang patuh pada aturan serta arahan aristokrat Jawa.

Jangan Mau Kalah dengan Jepang dalam Membatik!

Gambar 3. Orang Jepang Membatik

Cukup terbuai dengan lamunan membatik, disadarkan dengan suara yang asing bagi saya. Suara itu merupakan percakapan kecil beberapa orang asing yang juga turut membatik. Level membatiknya pun jauh melampaui saya yang masih dalam tahap pemula. Mereka adalah warga negara asing asal Jepang yang belajar membatik dan mengambil kelas khusus untuk membatik. Tour guide kami mengatakan, orang Jepang sangat rajin dan ulet dalam membatik. Terlihat dari hasil karya batiknya yang dikategorikan bagus. Mereka sangat sering datang dan silih berganti orang untuk belajar membatik. Bukan untuk mengembangkan batik di negara Jepang, namun mereka sangat menyukai kain batik untuk dijadikan kain pembungkus bekal makanan untuk anak atau suaminya berangkat sekolah atau kantor.

Miris, kata tersebut yang mewakili perasaan saya mendengar informasi itu. Mereka dengan bahagianya menjadikan kain batik sebagai life style mereka dalam melengkapi kehidupan sehari-hari. Sedangkan saya khususnya, hanya menggunakan batik disaat acara tertentu atau sudah tidak ada lagi kemeja yang akan dipakai pada hari itu.

Disaat arus budaya asing begitu tajam masuk ke sendi pergaulan generasi muda Indonesia, mereka (warga Jepang) begitu bahagianya belajar dan memanfaatkan budaya yang kita punya. Sebuah hegemoni yang berkebalikan antara kita dengan mereka. Mereka mampu memenangkan budaya yang arif dan bijaksana dengan menjunjung tinggi alam, sedangkan saya khususnya generasi muda malah terbawa arus budaya asing yang mungkin lebih baik budaya sendiri dibandingkan budaya asing tersebut.

Seakan tertampar dengan keadaan saat ini, bahwa generasi Z dan Alpha amat mencintai dan begitu dekat dengan teknologi namun lupa akan budaya sendiri. Teknologi yang mereka gandrungi pun terkadang bukan hal yang mendekatkan mereka kepada inovasi dan pendidikan, namun lebih menjerumuskan mereka kepada style yang jauh dari kata beradab. Generasi kini kian larut dalam aplikasi instan untuk bisa terkenal dengan berjoget-joget, menampilkan aurat kepada khalayak umum, serta membuat konten yang tidak mengedukasi.

Barulah bila budaya kita diakui oleh negara lain, kita berkoar-koar di media sosial seakan-akan menjadi korban dari pemilik sesungguhnya yang sangat kehilangan. Padahal mengenalnya pun kita tidak sebaik pemahaman mereka yang berusaha untuk melestarikan kebudayaan. Masih terngiang diingatan kita bahwa Reog diklaim oleh negara Malaysia menjadi warisan budaya tak benda ke UNESCO merupakan sebuah refleksi bagi generasi muda Indonesia agar tidak abai terhadap budaya tradisi. Bisa kita bayangkan mungkin saja tradisi budaya itu lebih ‘hidup’ di negara lain dibandingkan negara kita. Hal semacam ini merupakan autokritik bagi kita sebagai generasi penerus bangsa. Kita perlu menghidupkan semua warisan budaya masa lampau yang masih bisa diadaptasikan dan cocok dengan kondisi saat ini.

Misal saja Citayam Fashion Week yang belakangan ini menjadi buah bibir baik itu di media sosial ataupun di pemberitaan televisi nasional di kawasan SCBD (Sudirman Central Business District). Mereka bisa saja diarahkan untuk mengenakan busana kekinian dengan memadukan unsur budaya yang ada di Indonesia. Sehingga bukan hanya keren dari style nya, namun memupuk rasa cinta tanah air dengan melestarikan budaya khas daerah yang ada di Indonesia.

Jejak yang Tertinggal.

Hari kian siang menunjukkan pukul 13.25 WIB. Sekalipun enggan untuk pergi, pada akhirnya kami akan kembali kepada rutinitas. Khasnya bau malam (lilin batik), khusuknya orang asing membatik, serta teduhnya museum karena rindangnya pepohonan di jantung kota metropolitan semua kami rangkum dalam jiwa. Banyak yang bilang, cukup sekali saja mengunjungi suatu tempat agar kesannya tetap terasa. Cukup tahu sedikit saja agar kekagumannya tidak sirna. Namun, dalam hati meronta bahwa saya ingin kembali lagi dan lagi. Semoga suatu hari nanti disaat liburan tiba. Bukan hanya sekedar Museum Tekstil, namun lebih mencari dan melestarikan budaya Indonesia di pelosok pedalaman sana. Agar dunia tahu bahwa kita sangat kaya. Agar generasi muda bisa memahami bahwa kini tugas kita amat berat yaitu melestarikan budaya di era globalisasi.

Saat ini harapan kita semua, tak ada kecemasaan akan budaya Indonesia. Menggoreskan beragam pola kehidupan untuk melestarikan budaya menjadi sebuah pilihan tepat agar tidak di klaim oleh negara lain. Memperkenalkan sejak dini kepada generasi penerus bangsa agar mereka mencintai dan melestarikan budaya Indonesia yang luhur, tertib, dan teratur. Mengutip dari Diane Ackerman seorang seniman, sastrawan, dan penulis terbaik Amerika Serikat, “Love is like a batik created from many emotional colors, it is a fabric whose pattern an brightness may vary”. Cinta itu seperti batik yang dibuat dari banyak warna emosional, itu adalah kain pola dan kecerahannya dapat bervariasi.




Achmad Ardiansyah
Guru SDS Smart School

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemimpin di Sekolah Sudah Pernah Kamu Wawancarai?

Di Supervisi Akademik?