Problem Based Learning untuk Pembelajaran Daring Abad 21

 Problem Based Learning untuk Pembelajaran Daring Abad 21

Oleh: Achmad Ardiansyah

    Hampir dua tahun silam semenjak pandemi masuk ke Indonesia membuat program pendidikan ‘goyah’ akibat usaha kita harus beradaptasi dengan pembelajaran dari rumah. Roda pendidikan seakan tersendat dalam putaran karena guru dan peserta didik bingung untuk saling bertatap dan membagi pengalaman belajar. Guru harus mencari cara untuk bisa memberikan pengalaman belajar yang tepat dalam pembelajaran daring dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh guru dan peserta didik. Mulai dari menyapa peserta didik menggunakan media sosial berbasis jaringan seperti whatsapp sampai dengan pengumpulan tugas di LMS atau web sekolah.

    Salah satu cara untuk memberikan pengalaman pembelajaran yang bisa diterapkan pada pembelajaran daring abad 21 adalah pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning. Pembelajaran berbasis masalah mampu memfasilitasi peserta didik untuk bisa saling memberikan solusi dari setiap permasalahan yang diangkat, mendiskusikan solusi terbaik dari yang ada, serta mengkomunikasikan kepada seluruh audience dalam pembelajaran tersebut. 

        Menggunakan problem based learning sebagai model pembelajaran daring merupakan hal yang tepat bagi saya selaku pelaku pendidikan. Hal pertama dimulai dari orientasi pada masalah. Peserta didik yang saya ajarkan saat itu diberikan permasalahan terkait fenomena yang terjadi pada saat ini dengan tetap melihat kompetensi dasar yang sedang dipelajari saat itu. Mengangkat sebuah permasalahan berupa video pembalakan hutan yang disatu sisi merupakan kebutuhan keberlangsungan manusia dalam bertahan hidup, namun di sisi lain perbuatan tersebut dapat menganggu keseimbangan ekosistem alam akibat rasa tamaknya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup. Penyajian permasalahan ini disusun dengan rapih menggunakan lembar kerja peserta didik (LKPD) atau bisa disebut worksheet.

        Selepas peserta didik disajikan masalah, peserta didik dibentuk menjadi beberapa kelompok yang sudah disiapkan sebelumnya dengan komposisi setiap anggota kelompok balance secara pengetahuan. Memfasilitasi mereka untuk saling berdiskusi, kita bisa memanfaatkan tools breakout room dengan mengaktifkan di aplikasi tatap maya zoom cloud meetings. Di dalam ruangan breakout room, peserta didik secara leluasa dapat berdiskusi, saling berkomunikasi, dan share screen pembahasan masalah dan pemberian solusi.

        Guru menjalankan fungsinya sebagai fasilitator untuk masuk disetiap ruang maya breakout room untuk mengecek kegiatan diskusi dan memberikan bantuan bila dibutuhkan oleh peserta didik. Guru memonitoring kegiatan diskusi yang ada dalam breakout room dan sesekali memberikan bantuan bila dibutuhkan oleh peserta didik. Pada tahap ini, peserta didik berkolaborasi dan mengkomunikasikan solusi yang terbaik dari permasalahan yang diangkat.

        Hasil dari diskusi peserta didik dalam setiap kelompok dituliskan dalam berbagai bentuk media kreatif yang akan disajikan kepada peserta didik yang lainnya. Dalam tahap ini setiap kelompok dalam ruang virtual membuat solusi terbaik dari permasalahan yang ada dengan mempertimbangkan keselarasan kehidupan manusia dengan keseimbangan ekosistem yang ada di hutan. Ini merupakan tahap tersulit peserta didik dalam mengambil keputusan hasil dari diskusi sesama anggota kelompok.

    Tahap terakhir dalam model pembelajaran problem based learning bahwa setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya dalam ruang utama zoom meeting. Peserta didik untuk setiap kelompok menyampaikan solusi terbaik yang mereka miliki. Peserta didik dari kelompok lainnya memberikan tanggapan serta saran ataupun bertanya dari penyampaian solusi yang disampaikan oleh kelompok yang presentasi.

        Sintak demi sintak yang sudah terangkai dalam model problem based learning mampu melatih peserta didik untuk berfikir secara scientific. Keterampilan abad 21 seperti komunikasi, kolaborasi, berfikir kritis, dan kreativitas juga selaras terbangun dalam pembelajaran sekalipun pembelajaran tersebut adalah pembelajaran daring. Peserta didik tetap bisa mendapatkan semua keterampilan itu bila pembelajaran dirancang dengan baik dan tentunya didukung dengan peralatan pembelajaran daring yang memadai.

    Tantangan yang ada saat ini terletak pada tingkat kreativitas guru yang harus mendesign pembelajaran dengan pendekatan scientific dan mengangkat permasalahan kekinian sehingga peserta didik mampu menerjemahkan solusi dari permasalahan yang ada pada saat ini. Guru sebagai seorang inovator seyogyanya mampu menciptakan pembelajaran yang berkesan kepada peserta didik. Setiap permasalahan yang ada merupakan bagian dari kehidupan yang erat kaitannya dengan keseharian yang dialami peserta didik atau fenomena yang sedang hits saat ini.

        Selain dari itu, peralatan pendukung pembelajaran daring juga menjadi langganan tetap yang siap menantang guru dan peserta didik untuk setidaknya connect dari kediamannya masing-masing. Tantangan sinyal internet merupakan pembahasan panjang yang tiada habisnya karena hal tersebut merupakan kondisi yang tidak bisa dikondisikan oleh siapapun. Kesenjangan sosial juga turut menyumbang tantangan belajar dalam jaringan seperti bergantian saat belajar dari rumah menggunakan smartphone yang hanya satu.

        Namun di luar dari tantangan itu semua, guru yang memegang kunci dari lancarnya pembelajaran inovatif dan bermakna yang diberikan kepada peserta didik. Pembelajaran inovatif yang memfasilitasi pembelajaran abad 21 merupakan sebuah jalan untuk guru bisa memberikan materi yang tidak hanya mencapai ketuntasan dasar, namun lebih kepada pembelajaran untuk melatih keterampilan hidup dan kecakapan dalam bersosialisasi di masyarakat luas.

        Pembelajaran berbasis masalah atau biasa disebut problem based learning sangat efektif untuk mengembangkan keterampilan hidup peserta didik pada saat ini. Peserta didik diharapkan mampu menjawab setiap persoalan yang ada di keseharian dengan menawarkan setiap permasalahan yang terjadi di masayarakat. Berpikir kritis peserta didik pun salah satu tonggak utama bilamana solusi yang ditawarkan pada nyatanya belum menjawab setiap persoalan yang ada.

        Problem based learning sebagai bagian dari model pembelajaran inovatif memberikan ruang untuk peserta didik agar bisa mensinergikan setiap ide – ide yang ada pada setiap individu. Dengan adanya komunikasi dan kolaborasi yang terfasilitasi di dalamnya membuat setiap peserta didik mampu memahami materi lebih dalam dari sekedar menjalankan kewajiban untuk menuntaskan kompetensi dasar dan materi yang diberikan oleh gurunya. Terlihat di setiap pemikiran peserta didik bahwa menjawab persoalan dengan memberikan sebuah solusi yang terbaik merupakan manfaat ampuh yang dapat diteruskan selama mereka menjalankan kehidupannya menjadi insan yang berilmu dan bertaqwa. 

Profil Penulis

Penulis bernama Achmad Ardiansyah, akrab disapa Pak Achmad. Lahir di Depok, 19 Desember 1992 dari pasangan Maryono dan Hanibah.

Saat ini penulis mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak bangsa pada instansi pendidikan SDS Smart School, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Penulis dapat dihubungi di: Email: achmadardiansyah99@gmail.com

Telp/WA: 089624294592

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemimpin di Sekolah Sudah Pernah Kamu Wawancarai?

Di Supervisi Akademik?