Pemimpin di Sekolah Sudah Pernah Kamu Wawancarai?
Acungkan telunjuk bila kamu sudah pernah mewawancari kepala sekolah. Apalagi isi wawancaranya mengenai pengalaman mereka dalam memutuskan sebuah perkara yang berbalut dilema etika. Pastinya sangat menarik bukan? Mungkin kamu akan mendapatkan sisi kritis mereka dalam menentukan antara benar atau benar mana yang akan diambil. Bisa saja mereka memiliki pilihan ketiga atau biasa disebut opsi trilema.
Alhamdulillah pada beberapa hari lalu, saya berkesempatan untuk berbincang dengan Kepala SDS Smart School, Siti Nur Rahmawati, S.Pd dan Kepala SMPS Smart Shool, Pusriza, M.Pd. Mereka berdua merupakan mentor terbaik yang pernah saya temui saat ini dalam mengajarkan saya untuk menjadi guru pemimpin yang baik. Dari wawancara yang saya lakukan, ada kesan tersediri untuk setiap kepala sekolah. Mereka mempunyai gaya memimpin yang baik bagi anggotanya sehingga mampu mengembangkan SDM yang ada disekolah untuk memberikan pelayanan terbaik kepada murid.
Kesan baik pertama yang saya dapatkan dari Ibu Rahma selaku Kepala SDS Smart School adalah mengutamakan musyawarah. Dalam mengambil sebuah keputusan apalagi keputusan tersebut berkerangka dilema etika, maka Bu Rahma tak segan bermusyawarah dengan tim manajemen yang ada di sekolah. Tim manajemen ini merupakan rekan bantu yang dapat memberikan penilaian sisi lain dari masalah yang sedang dihadapi saat ini. Apalagi bila perkara atau masalah tersebut sudah masuk ke ranah kehidupan ekonomi seseorang, Bu Rahma turut meminta saran pendiri yayasan. Hasil yang didapat adalah keputusan bersama sehingga baik buruknya sudah dipikirkan dengan matang secara bersama juga. Itu yang dikatakan oleh beliau saat berdiskusi santai di ruang tamu tata usaha SDS Smart School.
Begitu juga dengan Pak Riza, beliau sangat memberikan kesan untuk saya dalam sesi wawancara di gedung SMPS Smart School. Beliau berkata, dalam memutuskan sebuah perkara/masalah harus dilihat dari luas area masalah tersebut. Bila masalah tersebut dalam scope kecil, terkadang diam dan mempelajari masalah yang terjadi serta mengambil keputusan atas mempelajari masalah tersebut sudah cukup dilakukan. Bila masalah itu dirasa areanya besar dan akan berefek panjang, perlu adanya orang ketiga untuk meminta nasihat dan berdiskusi serta memutuskan bersama masalah tersebut.
Ada kesamaan bukan diantara mereka, pertama pastinya dipelajari dulu sebanarnya duduk permasalahannya seperti apa. Sangat erat kaitannya dengan materi yang sedang saya pelajari dalam modul guru penggerak tentang "Pemimpin Pembelajaran dalam Pengembangan Sekolah". Mereka sudah mempraktikan langsung sembilan langkah dalam pengambilan keputusan dilema etika. Mulai dari mengenali nilai-nilai yang bertentangan, menguji masalah, hingga melihat lagi keputusan dan refleksikan. Seru bukan menjadi mereka?
Kata setiap kata mengalir dengan seru diselingi candaan saat melakukan wawancara pada saat itu membuat saya banyak berpikir dan berintropeksi diri. Bisakah saya menjadi bahkan melebihi mereka dalam urusan kepemimpinan? Wawancara itu menyadarkan saya bahwa menjadi seorang pemimpin perlu memiliki pandangan luas. Dapat melihat dari berbagai sisi yang mungkin umumnya itu tidak terlihat. Mengedepankan kepedulian dalam memutuskan sebuah perkara sehingga mampu meminimalisir efek negatif yang besar yang terjadi pasca pengambilan keputusan.
Begitu juga dengan pembelajaran yang ada di dalam kelas. Selain melalui 9 langkah pengambilan keputusan, tentunya keberpihakan kepada murid perlu ditambahkan untuk 9 langkah itu. Sehingga murid menjadi objek utama yang harus "diselamatkan" dalam mendapatkan proses pendidikan di sekolah.
Terima kasih atas inspirasinya pak.
BalasHapus